Kajian Arsitektur Tradisional Gayo pada Bangunan Bintang Resort di Takengon
DOI:
https://doi.org/10.55616/jitu.v7i1.1192Kata Kunci:
Arsitektur Tradisional Gayo, , Bintang Resort, , Kajian Arsitektur, Wastu-Citra, TakengonAbstrak
Arsitektur tradisional Gayo merupakan warisan budaya yang mengandung nilai-nilai filosofis, sosial, dan lingkungan yang tercermin dalam bentuk bangunan, struktur, tata ruang, material, serta ornamen. Namun, perkembangan pariwisata dan modernisasi telah mendorong transformasi nilai-nilai tersebut ke dalam bangunan kontemporer, termasuk pada Bintang Resort di Takengon. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji penerapan elemen arsitektur tradisional Gayo pada Bintang Resort serta menganalisis transformasi nilai arsitektur tradisional yang terjadi dalam konteks bangunan resort modern. Penelitian menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi kasus. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi lapangan, dokumentasi visual, studi literatur, dan wawancara mendalam. Analisis dilakukan dengan mengidentifikasi elemen-elemen arsitektur tradisional Gayo, kemudian membandingkannya dengan kondisi eksisting Bintang Resort menggunakan kerangka teori Wastu-Citra Y.B. Mangunwijaya untuk menilai aspek fisik (wastu) dan aspek makna budaya (citra). Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan arsitektur tradisional Gayo pada Bintang Resort bersifat parsial dan selektif. Elemen yang masih dipertahankan terutama terlihat pada bentuk atap yang mengadopsi siluet atap tradisional Gayo, sedangkan sistem struktur panggung, tata ruang tradisional, ornamen kerawang Gayo, dan orientasi budaya mengalami perubahan signifikan untuk menyesuaikan kebutuhan fungsi komersial dan kenyamanan wisatawan. Transformasi tersebut menyebabkan terjadinya pergeseran makna budaya dari fungsi simbolis dan filosofis menuju fungsi estetis dan komersial. Penelitian ini menyimpulkan bahwa Bintang Resort lebih merepresentasikan bentuk visual arsitektur tradisional Gayo dibandingkan nilai-nilai budaya yang terkandung di dalamnya. Oleh karena itu, diperlukan pendekatan desain yang lebih holistik agar penerapan arsitektur tradisional tidak hanya menjadi identitas visual, tetapi juga mampu mempertahankan makna dan karakter budaya Gayo secara utuh
Referensi
] Fadillah, R., Mulyadi, L., & Hidayat, T. (2023). Kajian sistem struktur rumah tradisional Gayo sebagai respon terhadap aktivitas seismik di dataran tinggi Aceh. Jurnal Arsitektur Nusantara, 8(2), 112–124.
[2] Funo, S., Yamamoto, N., & Inoue, M. (2016). Transformation of vernacular architecture in tourism development areas of Indonesia. Journal of Asian Architecture and Building Engineering, 15(1), 45–52.
[3] Gorga, A. (2018). Makna simbolik ornamen Kerawang Gayo pada rumah adat masyarakat Aceh Tengah. Jurnal Seni dan Budaya Nusantara, 10(1), 56–67.
[4] Mangunwijaya, Y. B. (1995). Wastu Citra: Pengantar ke Ilmu Budaya Bentuk Arsitektur. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
[5] Oliver, P. (2006). Built to Meet Needs: Cultural Issues in Vernacular Architecture. Oxford: Architectural Press.
[6] Prijotomo, J. (2008). Arsitektur Nusantara: Menuju Keniscayaan. Surabaya: Wastu Lanas Grafika.
[7] Rapoport, A. (1969). House Form and Culture. Englewood Cliffs, NJ: Prentice-Hall.
[8] Salazar, N. B. (2012). Community-based cultural tourism and the commodification of local culture. Journal of Sustainable Tourism, 20(1), 9–22.
[9] Yosantia, R., Olivia, S., & Putra, M. (2022). Karakteristik arsitektur tradisional Gayo pada Umah Pitu Ruang di Kabupaten Aceh Tengah. Jurnal Arsitektur dan Lingkungan Binaan, 7(3), 201–212.
File Tambahan
Diterbitkan
Cara Mengutip
Terbitan
Bagian
Lisensi
Hak Cipta (c) 2026 Maznuniza Gemasih, Sisca Olivia

Artikel ini berlisensi Creative Commons Attribution 4.0 International License.










Jurnal Ilmiah Teknik-Universitas Iskandar Muda