Representasi Arsitektur Tradisional Aceh Pada Gedung Lama Dprk Aceh Utara
DOI:
https://doi.org/10.55616/jitu.v6i1.1044Kata Kunci:
Arsitektur Tradisional, Aceh, Representasi Budaya, Pelestarian Bangunan TradisionalAbstrak
Gedung Lama DPRK Aceh Utara yang terletak di Lhokseumawe, Provinsi Aceh. Tergerusnya penerapan elemen-elemen arsitektur lokal dalam pembangunan gedung pemerintahan modern jadi fenomena yang perlu dikaji secara mendalam. Pendekatan yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan metode studi kasus, yang memungkinkan penelusuran mendalam terhadap nilai-nilai budaya yang terintegrasi dalam elemen bangunan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Gedung Lama DPRK Aceh Utara masih mempertahankan berbagai elemen khas arsitektur tradisional Aceh seperti atap tumpang, struktur rumah panggung, kolong rumah, serta ornamen geometris dan flora yang memiliki makna simbolik mendalam. Temuan ini mengungkapkan bahwa elemen-elemen tersebut tidak hanya berfungsi sebagai estetika visual, tetapi juga sebagai ekspresi identitas budaya dan simbol kekuasaan lokal. Meskipun bangunan mengalami kerusakan fisik, nilai-nilai simbolik tetap kuat dalam persepsi masyarakat. Penelitian ini memberikan kontribusi terhadap pemahaman bahwa arsitektur vernakular masih relevan dalam konteks institusional modern. Implikasi praktisnya adalah perlunya strategi pelestarian arsitektur berbasis lokalitas dalam kebijakan pembangunan, serta pentingnya restorasi konservatif terhadap bangunan bersejarah.
Referensi
R. Hardian and M. Suri, “Optimization Of Tropical Building Design With Local Materials In Gampong Cadek, Aceh Besar Regency,” 2025.
Ari Siswanto, “Kajian Awal Keaslian Struktur dari Arsitektur Tradisional di Sumatera,”
pp. 1–8, Feb. 2020.
Ja’par Muhammad, Deni, and Andriani Dela, “Reinterpretasi Konsep Local Wisdom pada Arsitektur Rumah Tradisional Aceh Kecamatan Glumpang Tiga, Kabupaten Pidie,” Dec. 2024.
Mirsa Rinaldi, “Rumoh Aceh,” Sep. 2020. Accessed: Jul. 04, 2025. [Online]. Available: https://repository.unimal.ac.id/5853/1/Buku%20Rumoh%20Aceh.pdf
I. Akulturasi Budaya Pada Masjid Jami, K. Kecamatan Samalanga Kabupaten Bireuen Studi kasus, B. Local Aceh, T. Tengah dan Kolonial Siti Zainab, C. Azmah Fithri, and D. Andriani, “Jurnal Mesil (Mesin Elektro Sipil),” vol. 6, no. 1, pp. 112–128, 2025, doi: 10.53695/jm.v6i1.1222.
D. Arief Sumarto, A. Zaini, R. Mildani, and R. Hardian, “Reinterpretasi Arsitektur Tradisional dalam Desain Museum Budaya Lokal Aceh,” Journal of Informatics and Computer Science, vol. 10, no. 2, Oct. 2024.
Ezra Syahfitrah Tanjung, Armelia Armelia, and Fidyati Fidyati, “Identifikasi Karakteristik Struktur Arsitektur Tradisional Nias Utara (Studi Kasus: Rumah Adat Desa Tumori),” vol. 3, no. 1, pp. 13–21, Dec. 2022.
ZV. Puspita Quinnelita, D. Nur Gandarum, and D. Rosnarti, Teknologi dan Kultur dalam Peningkatan Kualitas Hidup dan Peradaban. 2022.
Paul Oliver, Built to Meet Needs : Cultural Issues in Vernacular Architecture. 2006.
Amos Rapoport, House Form and Culture. Englewood Cliffs, N.J.:Prentice Hall, 1969.
N. Utaberta, W. S. Wan, M. A. I. Che, and A. P. R. Salain, “Proceedings International Conference on Architecture and Shared Built Heritage Conference (ASBC 2013): understanding our architecture & shared built heritage ASBC 2013.”
Unduhan
Diterbitkan
Cara Mengutip
Terbitan
Bagian
Lisensi
Hak Cipta (c) 2025 Anjas Saputra, Herdeni Syaputra, Al Ghazali Aminata Syahid, Muhammad Rusyidi Ulhaq, Armelia Dafrina, Yenny Novianti

Artikel ini berlisensi Creative Commons Attribution 4.0 International License.










This work is licensed under a