Praktik Spasial Pemukim di Bantaran Sungai Bedera, Kota Medan
DOI:
https://doi.org/10.55616/jitu.v6i2.1233Kata Kunci:
Adaptasi, Bantaran, Fenomenologi, PermukimanAbstrak
Permukiman informal bantaran sungai sering dianggap tidak teratur karena ketiadaan perencanaan formal. Kajian terdahulu mengenai kawasan semacam ini belum mengintegrasikan logika ekonomi-spasial dan makna fenomenologis secara bersamaan. Penelitian ini bertujuan menganalisis praktik spasial penghuni bantaran Sungai Bedera, Kota Medan, sebagai manifestasi lifeworld kolektif melalui mekanisme adaptasi fisik, apropriasi ruang, dan ritme temporal, dengan menempatkan durasi tinggal sebagai variabel analitis. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif fenomenologi melalui observasi partisipatif, wawancara semi-terstruktur terhadap sembilan informan, dan dokumentasi. Data kemudian dianalisis menggunakan teknik pattern matching. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tatanan spasial terbentuk melalui tiga mekanisme yang saling menopang: adaptasi fisik hunian secara bertahap, apropriasi jalan bantaran sebagai ruang sosial multifungsi, dan ritme temporal kolektif. Kesimpulannya, ketiadaan perencanaan formal bukan berarti ketiadaan tatanan, melainkan wujud tatanan internal yang terstruktur bagi penghuninya.
File Tambahan
Diterbitkan
Cara Mengutip
Terbitan
Bagian
Lisensi
Hak Cipta (c) 2026 Boby Ananda, Deni Deni, Hendra Aiyub

Artikel ini berlisensi Creative Commons Attribution 4.0 International License.










Jurnal Ilmiah Teknik-Universitas Iskandar Muda